Saat ia marah,
Sebenarnya ia hanya ingin didekati.
Ia tidak marah, hanya saja ia teramat membutuhkanmu.
Jika ia beranikan diri menampakan seraut wajah cemburu, itupun hanya usahanya untuk melukiskan ketakutannya.

Saat tutur katanya meninggi,
Itu bukan pembelaan, hanya seutas kejujuran.
Perhatikanlah, memang ia senantiasa ingin dihargai..
Namun ketahuilah hatinya tetap menanti.

Maka bersabarlah,
Saat ia berisik, mungkin hatinya terusik
Pahamilah dengan kelembutan, agar kelembutannya tetap terjaga dan melembutkanmu.

Kadang ia hanya mampu diam,
Menyembunyikan hujan di tepian istana hatinya.
Kadang ia tersenyum seperti tegar, sekedar menyembunyikan kerapuhan..

Laksana segenggam rumput halus yang berbisik dibelai angin,
Ia lemah, namun tidak mudah patah. Ia akan tetap menari meski nanti angin berubah menjadi badai..

Dalam keanggunan itu sesungguhnya terdapat kekuatan
Ia tidak mudah berubah, akarnya tetap mencengkram menguatkan sang pohon yang menaunginya.

Ia bukan rumput yang hina,
Ia adalah wanita yang dimuliakan dalam Islam.

Segenggam rumput halus,
yang butuh pohon untuk ia bersandar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s