KISAH INSPIRATIF : ANAK-ANAK KELAS B

Standard

Saya senang sekali cerita ini. Sungguh menakjubkan! Cerita ini saya kutip dari Ajahn brahm dalam buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.

Begini ceritanya…

Beberapa tahun yang lalu sebuah penelitian di bidang pendidikan diadakan secara rahasia di sebuah sekolah di Inggris. Sekolah itu memiliki dua kelas untuk setiap kelompok anak-anak dengan usia sepantar. Pada akhir tahun ajaran diadakanlah sebuah ujian dalam rangka memilih anak-anak untuk pembagian kelas berikutnya.

Akan tetapi hasil ujian itu tidak pernah diumumkan. Dalam kerahasiaan hanya kepala sekolah dan para pakar psikologi saja yang mengetahuinya. Anak-anak yang mendapat peringkat satu ditempatkan di kelas yang sama dengan anak-anak yang mendapat peringkat empat dan lima, delapan dan sembilan, dua belas dan tiga belas dan selanjutnya. Sementara anak yang mendapat peringkat dua, tiga ditempatkan di kelas yang sama dengan peringkat enam dan tujuh, sepuluh dan sebelas dan seterusnya. Dengan kata lain berdasarkan kinerja selama ujian anak-anak dibagi rata menjadi dua kelas. Para guru pun diseleksi berdasarkan kesetaraan kemampuan. Bahkan setiap ruang kelas diberi fasilitas yang sama. Segala sesuatu dibuat sama hanya dibedakan berdasarkan kelasnya, kelas A dan kelas B.

Pada kenyataannya setiap kelas memiliki kemampuan yang setara. Tetapi di benak setiap orang anak-anak dari kelas A dianggap sebagai anak yang cerdas dan anak dari kelas B dianggap tidak begitu pandai. Beberapa orang tua dari kelas A mendapat kejutan menyenangkan dan menghadiahi anak mereka dengan hadiah dan pujian. Sementara orang tua dari kelas B mengomeli anak mereka karena dianggap telah gagal dalam ujian. Bahkan para guru pun mengajar dengan sikap yang berbeda. Sepanjang tahuan ajaran ilusi itu terus dipertahankan. Lalu tibalah ujian akhir.

Hasilnya membuat merinding tapi tidak mengagetkan. Anak-anak kelas A mendapat prestasi yang lebih baik dari anak kelas B. Pada kenyataanya hasilnya juga akan seperti itu jika dulunya mereka terpilih sebagai anak kelas A.

Seperti apa mereka diajar sepanjang tahun, seperti apa mereka diperlakukan, seperti apa mereka dipercaya demikianlah jadinya mereka.

———————————————————————————————————-
Dulu, saya selalu minder dengan teman-teman saya yang berhasil masuk PTN terkenal. Biasalah… minderisme mahasiswa PTS! :D

Tapi setelah membaca cerita Ajahn Brahm ini saya menjadi berpikir ulang..
Ya… Adalah logis bahwa reputasi universitas menentukan kesempatan bekerja ke depan misalnya.

Jika kamu seorang HR Personnel di sebuah perusahaan, dan kamu harus memilih anggota baru perusahaan, jika kamu memiliki 2 kandidat yang relatif sama untuk segala hal, maka salah satu yang akan kamu pertimbangkan adalah reputasi universitasnya, bukan?? cukup relevan…

Tapi…
Jangan pernah terkukung oleh universitasmu!!!Jika kamu memiliki prestasi pribadi yang cukup , maka kamu bisa tetap unggul dibandingkan dengan yang lain.

Sebagai mahasiswa, manfaatkanlah kesempatan, dan peluang itu selalu terbuka bagimu!

Semual tergantung pada dirimu!

Apa “beda” yang lebih baik dari dirimu dibandingkan yang lain, bukan hanya di angkatanmu, atau di kampusmu, tapi secara kota atau nasional.

Berfokuslah untuk menjadikan dirimu lebih “seksi”. Warnailah CV mu dengan prestasi, ikutlah kompetisi di kampus, maka kamu akan beda dan kesempatanmu akan semakin baik. Pelajar bahasa asing ke-2 seperti jepang, mandarin atau perancis. Pokoknya yang membuat “CV” kamu berbeda dengan teman kamu. (Dwi Anggrayana N)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s